Isnin, 30 Januari 2012

TANPA IMAM YANG HAQ, TAWAF MELINGKARI KA'BAH SAMA DENGAN MELINGKARI ISTANA HIJAU YAZID


SETIAP HARI ADALAH ASYURA, SETIAP BULAN ADALAH MUHARRAM DAN SETIAP TEMPAT ADALAH KARBALA,
(SELOGAN SYAHID DR ALI SYARIATI, PEMIKIR ISLAM YANG MAMPU MELULUH
LANTAKKAN ASUMSI BARAT HINGGA MASIH BELUM SIUMAN SAMPAI HARI INI, DEMIKIAN MENGGEMA DI REPUBLIK ISLAM IRAN HINGGA REVOLUSI BERHASIL)

Taqi Muntazhery
Acheh - Sumatra




Bismillaahirrahmaanirrahiim


Apa yang perlu kita analisa ketika berhadapan dengan fenomena yang sama sebagaimana saat yang dihadapi Imam Hussein as di Karbala? Apakah cukup sekedar mengulangi selogan yang dikemukakan para arsitek Revolusi Islam Iran tersebut? Al Qur-an tanpa dianalisa maknanya untuk diaplikasikan dalam kehidupan nyata tidak berbeda dengan buku-buku yang ditulis para ahli yang tujuannya sekedar komersil. Demikian juga peringatan Hari Asyura tanpa usaha kita untuk menangkap esensinya agar kita mengenal persis mana komunitas yang ditentang oleh Imam Hussein agar kita hari ini juga menentangnya. Dengan cara demikianlah kita mendapat penilain Allah sebagai pembela Imam Hussein, keluarga dan sahabat setianya.

Apabila kita sekedar memperingati tanpa kita analisa mana fenomena Yazid di zaman kita masing-masing. saya yakin andaikata Yazid bin Muawiyah dapat dihadirkan kembali ketengah-tengah komunitas kita, diapun bergegas untuk bergabung dalam setiap acara peringatan hari Asyura. Apabila anda mampu memahami apa yang saya maksudkan ini, anda akan mengatakan: "Sandiwara apa lagi yang sedang berlangsung ini"?

Pembaca yang mulia-
Syahid DR Alisyariati telah begitu jelas memperkenalkan makna dari selogan yang sangat revolusioner tersebut diatas: "Setiap hari adalah Asyura, setiap bulan adalah Muharram dan setiap tempat adalah Karbala". Artinya bagi siapapun yang meyakini diri sebagai pengikut Imam Hussein akan bertempur melawan setiap fenomena yang sama sepak terjangnya dengan sepak terjang Yazid bin Muawiyah. Perlawanan Imam Hussein terhadap Yazid bin Muawiyah di Karbala adalah pertempuran antara "yang haq dengan yang bathil". Fenomena inilah yang sedang berlangsung di Timur Tengah dan bahkan sedang menDunia sekarang ini.

Ketika Habil hendak dibunuh Qabil yang durhaka itu, Habil tidak melawannya, kenapa? Agar pembunuhan tersebut benar-benar terjadi bahwa diawal sejarah kehidupan manusia terjadinya "perang" antara yang haq dan yang bathil agar manusia belakangan dapat mengambil i'tibar ketika meneruskan kehidupan di planet Bumi ini bahwa Dunia tidak sunyi dari pertempuran antara yang haq dan yang bathil sebagai arena ujian Allah untuk diseleksi, mana yang bakal menjadi penghuni Neraka dan mana yang akan mewarisi Syurga.

Paska kematian Habil, Dunia dipimpin oleh Qabil secara dekaden. Artinya Qabil masih saja mengklaim bahwa dirinya adalah penerus kepemimpinan ayahnya, Nabi Adam. Padahal sepak terjang Qabil bertolak belakang dengan esensi agama ayahnya. Pembela darah Habil diwarisi oleh Nabi Ibrahim, Musa, Isa, Muhammad, Ali dan Hussein. Sedangkan sepak terjang Qabil diwarisi oleh Namrud, Fir'un, Abu Sofyan, Muawiyah dan Yazid.

Ketika Imam Hussein melihat kerusakan (fasad fil ardh) ditangan Yazid, beliau tidak bersikap sebagaimana Habil berhadapan dengan Qabil. Ini dymensi revolusioner sang Imam yang sangat penting untuk dianalisa dengan cermat. Hal ini terlihat jelas bahwa Imam Hussein dibekali dengan senjata walaupun jumlah pengikutnya hanya berjumlah 72 orang (baca sedikit dibandingkan dengan angkatan perang Yazid ber jumlah 3000 orang). Andaikata seluruh peserta Haji memahami dan meyakini khut bah Imam Hussein bahwa tanpa Imam yang haq, tawaf melingkari Ka'bah adalah sama dengan melingkari istana hijau Yazid. Dengan kata lain bukan saja tidak sah Hajinya tetapi bahkan tidak ada gunanya mengaku beragama Muhammad saww (baca masuk katagory hypocrite). Sepak terjang inilah yang sangat disa yangkan, dialami banyak orang yang mengaku dilidah beriman sementara Allah berkata:". . . . . . . wama hum bimukminin" (QS, 2: 8). Andaikata seluruh jamaah Haji saat itu ikut bersama Imam Hussein ke Karbala, Imam dan keluarganya tidak akan terbunuh dan bahkan besar kemungkinan Imam akan menang di Karbala.

Demikian juga andaikata kaum Muslimin tidak membiarkan rakyat Bahrain, Yaman dan kawasan lainnya dibantai oleh "Yazid-yazid" modern di Timur Tengah, besar kemungkinan revolusi sudah selesai. Sayangnya kita tridak berbuat untuk rakyat-rakyat tertindas di Timur Tengah sama seperti kita bela orang Palestina. Padahal "Palestina" bukan saja Palestina tetapi juga "Timur Tengah" dan malah sepak terjang rezim-reziom zalim sudah mendunia. Apakah terlalu sulit untuk dipahaminya?


Sebahagian orang yang mengaku bermazhab Syiah di pulau Jawa hanya terbatas dengan mengeluarkan airmata ketika memperingati hari syahidnya Imam Hussein di medan Karbala, tetapi setelah itu merekapun sepertinya tidak berbeda dengan pengikut Yaziz bin Muawiyah bin abu Sofyan, bersatupadu dalam system Hindunesia yang Yaziddin itu. Ini membuktikan bahwa mereka baru sebatas ilmu Syiah hingga mereka hanya mengetahui kalau Imam Hussein teranianya di Padang Karbala, namun tidak memiliki Ideology Imam Hussein yang pantang bersatupadu dalam system taghut zalim dan hipokrit. Sebahagian mereka memiliki banyak ilmu tentang Syiah dan 12 Imamnya hingga mereka layak disebut Ilmuwan Syiah namun sebetulnya mereka masih belum apa-apa dan tidak jauh berbeda dengan Islam non Syiah. Untuk berguru tentang Syiah, tentang Karbala tentang Imam Hussein memang mudah tetapi untuk memahami Syiah Alawi (baca Syiah merah), Imam Hussein dan Karbala diperlukan mendalami Ideologynya.


Kalau kita terbatas pada ilmu Syiah, Imam dan Karbala, kita belum mampu melihat fenomena yang ditentang Syiah, para Imam dan Hussein di Karbala di zaman kita masing-masing. Justeru itulah kita masih saja bersatu padu dan bahkan mengidentifikasi dirikita sebagai fenomena dimana Yazid menjadi prototypenya fenomena tersebut. Itulah yang dinamakan Syiah hitam atau syiah dekaden. Syiah sejati atau syiah Alawi adalah syiah merah. Mereka bukan saja berilmu Syiah tetapi juga berideology syiah, para Imam dan Karbala.


Agama manapun memiliki dua wajah yang saling bertentangan, wajah dekaden dan wajah ideology. Islam berwajah dekaden seolah-olah melibatkan dirinya dalam kejahatan, menumbuhkan reaksionerisme, kelambanan, dan kelumpuhan. Agama Islam macam ini telah mengekang spirit kebebasan dan secara culas membenarkan status quo. Sedangkan Islam yang type lain, Islam ideology yang pantang bersatupadu dalam system Islam yang dekaden. Sudah barang pasti Islam Ideology tidak diperbolehkan tumbuh dan berkembang dalam sejarah oleh Islam dekaden. Justru di jantung bangsa-bangsa Muslim, sebagaimana kita keta hui, kebenaran dan cita-cita Islam sedang dikorbankan.


Dalam bentuknya yang tidak ideologis agama adalah suatu kumpulan keperca yaan turun-temurun dan perasaan individual, suatu imitasi terhadap upacara-upacara, aturan-aturan, kebiasaan-kebiasaan agama dan praktek-praktek yang sudah berurat berakar dari satu generasi kegenerasi lainnya. Jenis agama sema cam ini menunjukkan semangat kolektif dari suatu kelompok masyarakat. Agama seperti ini tidak pernah nenemukan esensinya hingga memperlihatkan penen tangannya terhadap spirit dan semangat kemanusiaan yang sesungguhnya.


Praktek agama seperti ini sampai hari ini berkembang dan tumbuh subur dalam system yang hipokrit, dimana mereka mengaku beragama Muhammad tetapi mereka tidaklagi memiliki ideology Muhammad, Ali dan Hussein di Karbala. Sebahagian mereka dari kampung berpindah ke kota. Dikota mereka menimba ilmu diberbagai perguruan hingga memungkinkan mereka menjadi "orang besar" setelah bergabung dengan orang-orang pemerintahan. Mereka menjadi kaya, memiliki rumah yang luck, gaji yang tinggi dan mobil mewah. Namun kebanyakan mereka hidup miskin dan menderita tetapi mereka tetap berdaya upaya agar tidak ketinggalan ketika musim maulid tiba kendatipun Rasulullah sendiri melarangnya, namun mereka sepertinya tidak pernah mengetahui adanya larangan. Tak obahnya seperti kebiasaan orang Kristian memperingati hari lahirnya Yesus, mereka tidak pernah memahami bahwa tgl 25 Desemeber itu bukan hari lahirnya Nabi Isa as tetapi hari lahirnya dewa matahari. Demikian juga pohon cemara yang mereka hias sebagai pohon Natal, padahal pohon tersebut takpernah eksist ditempat kelahiran Nabi Isa bin Maryam.http://www.youtube.com/watch?v=YDTC5n8mfzI&feature=related


Dikalangan Syiah jaman Syah Redha Palevi juga demikian kondisi masyarakat, dimana orang-orang miskin walau makanpun tak menentu, berdaya upaya walau dengan cara menabung guna membeli lampu pompa, rantai untuk flagelasi (me mukul - mukul tubuh dalam peringatan syahidnya Imam Hussein di Karbala), alat bunyi-bunyian dan jubah hitam. Ironisnya acara tersebut dikordinir penguasa. Pada hari Asyura malah semua orang dipaksakan harus mengalir airmata tetapi satu hari setelah itu atau esoknya pemerintah membuat hari bergembira dimana tidak dibenarkan seorangpun menangis kecuali ditangkap polisi. Jadi semua me reka (baca penguasa plus rakyatnya memang syiah tetapi syiah Safawi bukan syiah Alawi. Syiah Alawi tidak di benarkan berkembang sampai Imam Khomaini, Dr Ali Syariati, Murtadha Mutahhari cs muncul hingga mampu menggulingkan pe nguasa Safavid dan berdirinya system Islam Syiah Alawi yang sangat cemerlang sekarang ini.


Mudah - mudahan tulisan singkat ini menjadi renungan bagi banbgsa-bangsa yang sedang tertindas di jaman kita ini. Kita harus belajar memahami Karbala hing ga menemukan fenomena karbala dikalangan kita masing-masing. Kita harus mampu memahami mana sosoknya Yazid di jaman kita, dikalangan kita dan mana sosok Hussein dikalangan kita masing-masing. Lalu bersatulah "Hussein-hussein" untuk meluluhlantakkan "yazid-yazid". Dengan cara demikianlah kita terlepas dari api Neraka, bukan hanya dengan mengalirkan air mata di hari Asyura dan berpu asa agar dapat pahala sedangkan dalam kehidupan sehari-hari kita bersatupadu dalam system yang sama dengan system yang ditentang Imam Hussein as di Karbala.
(Barakallah li walakum)
   
http://www.youtube.com/watch?v=JyWul35JnjY&feature=related



http://www.youtube.com/watch?v=8tnK51kRLZo&feature=related


Disini mencoba menampilan experimentasi pemikiran sederhana guna memberi kontribusi atas berbagai masalah keislaman dan kepapuaan guna mencapai kemaslahan bersama atas berbagai masalah sosial politik. Penawaran pemikiran lebih pada perspektif islam, yakni; berdasarkan nilai-nilai utama yang terkandung dalam dan dari sumber Al-Qur'an dan Al-Hadis, dengan intrepretasi lebih bebas sesuai konteks sosial budaya Papua.