Khamis, 14 April 2011

PERJALANAN ISLAM ANAK PAPUA




                                                      
Nama dan Tempat Lahir

                

Selama ini saya dikenal nama Ismail Asso. Tapi dalam ijazah nama saya tercatat dengan nama Isman Asso. Saya lahir di Kampung Werasikiwa, Dusun Assolipele Distrik Walesi Wamena Kabupaten Jayawi Jaya Papua. Dusun Assolipele Distrik Walesi 6 Km dari Selatan Kota Wamena.


Kapan persisnya saya lahir tidak tercatat karena lingkungan keluarga belum tahu baca tulis. Tapi peristiwa perang tahun 1977 saya tidak ikut mengalami. Karena itu dapat diperkirakan saya lahir pada tahun 1975 atau 1976. Tanggal dan bulan berapa persisnya saya lahir tidak pernah saya tahu dan itu terus berlangsung kini hingga akhir hayat nanti.
           

Nama dari orang tua

                              
Pemberian nama dalam budaya Suku Dani terkait erat dengan peristiwa penting. Pemberian nama seringkali sebagai pengingat peristiwa. Seringkali orang Dani memberikan nama pada anaknya nama keluarga misalnya nama saudara sepupu lebih tua. Tapi kadang dan umumnya nama baru dinamai apabila ada kerabat meninggal. Nama adalah harapan. Demikian pemberian nama oleh orang tua.


Saya diberi nama oleh orangtua Nasike: Na (ku), Sike (panah;). Jadi Nasike = "Panahku". Jika diperhatikan arti nama ini menunjukkan bahwa ada harapan orang tua, kelak besar dikemudian hari, saya diharapkan menjaga dusun dari penyerbuan/perebutan musuh dalam tradisi perang suku di Lembah Balim. Nama ini dapat pula berarti agar kelak besar saya menggantikan fungsi orang-orang tua dulu (kakek-tete) sebagai pendiri Dusun Assolipele. Karena panah senjata utama dalam budaya perang suku umumnya rakyat Papua dan simbol pertahanan diri dalam perang.


Kemudian nama Nasike berubah jadi Ponogo, orang mulai memanggilku dengan sebutan baru ini. Ponogo, artinya "Terjatuh". Karena almarhum ayahanda saya wafat kecelakaan di Kalelo[1], pada musim kelapa hutan (tuke melapenem). Nama ini sebagai pengingat peristiwa kecelakaan almarhum ayahandaku yang kecelakaan dihutan yang hingga kini saya sendiri belum pernah mengenal wajah beliau. Selain nama baru itu ada tapi kadangkala orang tetap panggil nama lama, Nasike. Demikian pemberian pergantian nama dalam tradisi Suku Dani Lembah Balim Wamena Jayawi Jaya Papua.
                               

Nama Raport Madrasah


Pada waktu saya terdaftar sebagai siswa Madrasah Ibtidaiyyah (MI/SD) Walesi, guruku, mengganti namaku lain lagi. Dalam raport saya dicatat bernama Isman Asso, tanggal lahir 5 Mei tahun 1975. Nama ini maknanya saya sendiri tidak tahu, tapi diikuti ijazah SMP, SMA/Madrasah Aliyah hingga saya terdaftar di Fakultas Syari’ah diperguruan tinggi (IAIN/UIN) Ciputat Jakarta.


Pencatatan tanggal dan tahun lahir dan nama oleh Kepala Sekolah sepenuhnya fiktif alias kira-kira. Tidak hanya saya tapi teman-temanku siswa sekolah Islam pertama dipedalaman Papua ini semua sama. Pencatatan identitas (nama dan tanggal lahir), tentu semuanya nama baru dan islami menurut selera perkiaraan guru Wali Kelas/Kepala Sekolah dalam raport sepemuhnya inisiatif Kepala Sekolah kami, Pak Bashori Alwi dan Pak Walidan Mukhsin.


Walaupun demikian apakah sesungguhnya penting arti sebuah nama? Umumnya para Ulama sufi memandang symbol tidak penting. Bagi mereka betapapun kulit pisang indah dipandang mata, tapi tetap yang dimakan isinya. Bukan symbol tapi essensi, bukan formal tapi substansi, bukan kulit tapi isi, bukan sebutannya tapi orangnya. Singkatnya bukan nama tapi orangnya. Hadis populer misalnya;


Innallahalaa yangdhuru ilaa shuwaarikum walaa ilaa ajsaamikum walaakin yangdhuru ilaa quluubikum wa’amaalikum.


Artinya : “Sesungguhnya Allah tidak melihat gambarmu dan badanmu tapi Dia melihat hatimu dan amal perbuatanmu”. (Hadits Nabi ).


Namun kadang manusia sering mementingkan bungkusan daripada isi. Karena memang isi tanpa kulit tidak mungkin baik, walaupun tetap yang mau dimakan bukan bungkusan. Belakangan filsafat bahasa, hermeutika, Mickael Faucol, mengesampingkan aspek ini sebagai hal penting. Demikian sufi abad tengah, Syaikh Jalaluddin Ar-Rumi dalam kitab Syamsi At-Tabriz menulis :


"Cinta kutuliskan dan kuuraikan panjang lebar
Namun cinta kudatangi aku menjadi malu atas kata-kataku dihadapan cinta
Kata-kata terlalu panjang lebar menguraikannya
Akalpun terbaring tak berdaya dihadapan cinta, bagaikan kedelai didalam lumpur
Hanya cinta sendirilah yang menerangkan cinta dan percintaan
Jika bukti datang jangan palingkan wajahmu darinya
Matahari membuktikan dengan sinarnya..."


Saya sendiri tidak tahu arti penting sebuah nama. Tapi kata orang Jawa nama adalah harapan (doa). Dalam kliwon (ramal nasib?) nama Isman Asso, mungkin baik. Tapi apa arti pentingnya? Saya tidak mau tanya -arena memang tidak percaya -pada paranormal agar meramal atau persoalkan baik-buruk apa arti semua nama diatas, namun yamg pasti nyata dalam hidup saya banyak hal baik-buruk, susah-senang, manis-pahit pernah saya jalani menggunakan nama ini.


Dengan menggunakan nama ini saya pernah rangking satu di Madrasah Ibtidaiyah (MI) Merasugun Asso Welesi Papua walaupun di Ciseeng Bogor Jawa Barat, pertama terdaftar SMPI Al-Mukhlisin saya siswa paling bodoh karena dicatat guru Wali kelas ranking 45 dari jumlah 45 siswa. Dalam pergaulan sehari-hari saya dikenal Ismail Asso. Menjadi masalah tatkala Ismail Asso bukan sebagai Isman Asso mengurus sesuatu urusan resmi.


Nama Islam


Namaku Ismail Asso, lebih menunjukkan nama Islam (tanpa fam) dari bahasa Arab ketimbang dari bahasa Ibrani yang harus ditulis Ishmael. Bahasa Ibrani dan Bahasa Arab berakar dari satu rumpun budaya semit Timur Tengah. Nabi Ibrahim, sebagai Bapak monotheisme, memperisterikan Siti Sarah dan Siti Hajar (Hagar). Isteri kedua memperanakkan Nabi Ismail AS yang kelak menurunkan Nabi Muhammad SAW, pembawa Islam, dan Ishaq AS, menurunkan Nabi Isa AS atau Yesus Kristus, pembawa agama Kristen.


Demikian kira-kira asal dari arti sebutan popular nama saya terambil disini jika ditelusiri secara bahasa sampai kesana. Terma (kata) Ismail aksen, logat (lughoh) Arab dari bahasa Ibrani dalam kisah Al-Qur’an, kitab suci Islam tertulis dalam bahasa ini. Ibrani juga bahasa kitab suci umat Yahudi tertulis. Bahasa Arab dan Ibrani se-rumpun dari budaya semit Timur Tengah, tempat agama-agama besar samawi berasal (baca Yahudi, Kristen dan Islam). Budaya bahasa mereka Ismail/Ismael maksudnya sama. Dari bahasa Ibrani : Isma’, artinya : “mendengar”, El, artinya: “Tuhan/Allah”. Berarti Ismail artinya “Tuhan telah mendengar”. Nama depan sering berubah tapi fam Asso tetap menempel dibelakang mengikuti perubahan nama. Ismail adalah nama “baptis” atau nama syahadah.


Masa Kanak-Kanak


Saya habiskan masa kanak-kanak di kampung kelahiranku di Distrik Assolipele Walesi, (Distrik Assolipele semua warga penduduknya beragama Islam). Pada masa saya lahir dan kanak-kanak tradisi lama sangat dominant. Pengaruh modernisasi dan agama belum terasa. Tradisi adat budaya di Lembah Balim pada masa itu dan mungkin sampai dewasa ini -belum berubah total tapi -masih lebih kuat dari nilai lain dan baru termasuk agama Islam dan Kristen. Di Lembah Balim Wamena orang lebih tinggi menghayati tradisi lama daripada agama. Nilai-nilai Adat lebih dihormati mempengaruhi hidup masyarakat hingga dewasa ini masih terasa berlangsung.      

                
Kedua orang tuaku meninggal sejak saya masih kecil. Saya menjalani kehidupan yatim piatu sejak kecil. Karena itu pada masa kanak-kanak saya sering “kelaparan” atau kurang makan karena tidak diatur, makan teratur. Saya dan teman-teman sebaya sering makan buah-buah dari alam dan daun mentah seperti lalapan untuk tahan-tahan lapar. Karenanya saya menderita penyakit busung lapar alias kurang gizi. Jika diingat semua itu cukup sedih memang, tanpa kasih sayang oleh orang tua.


Karena itu pada masa kanak-kanak saya dipelihara berpindah-pindah oleh kerabat ayahku dari satu keluarga ke keluarga lain. Saya mengalami tiga lingkungan Katolik, Islam dan Kingmi, tapi nilai-nilai adat (Kaneke) lebih dominan. Nama Nasike pernah ditulis absensi SD YPPK (Yayasan Pendidikan Kristen Katolik) Hepuba Distrik Assolokowal. Paman saya Bapak Amandus Asso berpendidikan Belanda, dia guru agama Katolik disekolah pemerintah (SD Impres Megapura) dan sekolah umum milik yayasan Katolik.


Datang tinggal di Hepuba sebenarnya saya tidak betah, tapi Paman di Welesi menginginkan saya tinggal di Hepuba daripada tempat lahir saya dilahirkan, di Walesi. Karena selain sejarah garis keturunan nenek moyang keluarga besar Asso di Walesi dari garis keturunan ayah berasal dari daerah sekitar disini (Wesapot, kini desa Assotipo). Demikian juga banyak kerabat nenek moyang ayahku ada disini (Distrik Assolokowal dan Assotipo).


Selama datang tinggal hidup di Hepuba yang tidak pernah saya lupa karena itu sulit dilupakan adalah, mandi pagi buta pada hari minggu, karena paman saya Bapak Amandus Asso, khotbah di Gereja Katolik Hepuba, mengharuskan saya bersamanya pergi ke Gereja. Hanya beberapa tahun saja di Hepuba, karena tidak betah saya kembali ke Welesi walaupun paman menginginkan saya harus tetap tinggal disini sampai besar. Jika saya tidak pulang ke Walesi mungkin jadi lain jalan cerita hidup saya.


Awal Mula Islam di Walesi


Sebelum orang-orang Walesi masuk agama Islam, sebenarnya yang lebih dulu masuk agama Islaam Suku Dani Lembah Baliem Wamena adalah orang-orang dari Megapura klan Lani, Lokobal, Matuan dan Asso dari daerah Megapura dan Hitigima, Lanitapo dan suku Mukoko,Wouma melalui guru-guru asal Jawa yang dikirim oleh pemerintah di SD Impres Megapura (nama daerah ini dulu, Sinata). Tapi agama Islam tidak berkembang dikalangan mereka sebagaimana perkembangan Islam di Walesi yang didukung oleh kepala-kepala suku besar dan tokoh-tokoh Adat, walaupun kini komunitas muslim di Wamena sudah merata.


Sebelum Madrasah Ibtidaiyah (MI) Merasugun Asso didirikan pada tahun 1978, di Welesi sebenarnya sudah ada SD YPPK (Yayasan Pendidikan Kristen Katolik) dari Missi Katolik. Jaraknya tidak jauh dari Distrik Assolipele, (Assolipele adalah nama confederasi perang tapi juga nama kampung/distrik). Saya pernah masuk SD YPKK ini tapi hanya sebentar saja. Saya ditolak oleh guru wali kelas bernama Cosmas Asso. Alasannya saya masih kecil selain jarak dari rumahku jauh untuk ukuran usiaku pada masa itu. Mungkin begitu pertimbangan guru wali kelas itu karena memang badanku kecil dari teman sebaya yang boleh sekolah dan diterima di sekolah itu.

           
Karena SD YPPK dari Missi Katolik maka semua anak-anak muslim (kakak-kakak kami) dari clan Assolipele berjumlah 20 orang yang tidak boleh sekolah di SD ini dikirim ke Jayapura untuk sekolah di SD Muahhamadiyah Abepura dan Madrasah Ibtidaiyyah Nurul Anwar kota Jayapura. Dalam waktu sama dikampung kami mulai bangun rumah tempat tinggal guru dan Madrasah Ibtidaiyyah, sebagai sekolah Islam pertama dan satu-satunya di Wamena dan Pegunungan Tengah Papua hingga dewasa ini dibangun. Bangunan ini kemudian digunakan berbagai macam kegiatan keagamaan seperti pengajian  semi Pondok Pesantren oleh guru-guru dari Jawa dan Bintuni-Fak-Fak yang datang pada tahun 1977-1980.

           
Saya bersama teman-teman sebaya belajar mengaji disini setiap sore ba’da maghrib (selesai sholat maghrib, jam 18.00 WITA), seperti kaifiyatusholah (tata cara sholat), thoharah (tata cara berwudhu), sholat jum’at bersama kaum bapak, sholat taraweh berjama’ah tiap bulan Ramadhon (bulan puasa), khitanan massal, rapat umum jika ada tamu dari Jayapura atau Jakarta dll.
           

Bangunan pertama ini bentuknya segi empat dan dua tingkat. Ditingkat atas digunakan untuk tempat tinggal guru-guru, dibawahnya difungsikan tempat mengaji, mushollah, madrasah di pagi hari dan berbagai fungsi keagamaan Islam lainnya seperti telah disebut diatas. Pembangunan dan lokasi Islamic centre Walesi pada mulanya diatas tanah milik clan Asso. Tapi karena lokasinya jauh dan kedalam, maka di pindah temapt sekarang ini diatas tanah clan Yelipele.

           
Bangunan pertama ini sudah direncanakan tahun 1975 tapi mulai dibangun tahun 1978 dan selesai tahun 1979 siap digunakan untuk kami sekolah. Bangunan ini belakangan mulai digunakan untuk kegiatan belajar mengajar sekolah Islam pertama (Madrasah Ibtidaiyyah) pada pagi hari sejak guru-guru dari Jawa dan Kokas Bintuni Papua datang tinggal disini. Sementara itu pembangunan Madrasah Ibtidaiyyah sudah dimulai dibangun.

           
Tapi sebelum ada bangunan sekolah dan rumah tempat tinggal didirikan disini guru-guru Agama Islam sudah datang lebih dulu dari Fak-Fak jauh sebelumnya. Yang pertama datang adalah Pak Guru Aroby Aituarau (kini MRP Pojka Agama) dari Jayapura kelahiran Kaimana dan kedua Pak Jamaluddi Iribaram dari Kokas Bintuni (kini kepala Urusan Haji Propinsi Papua). Sebelum akhirnya bangunan sekolah kami Madrasah Ibtidaiyyah Merasugun Asso benar-benar dibangun lengkap 6 ruang kelas belajar yang sangat megah dan modern pada tahun 1980 untuk ukuran daerah pedalaman Pegunungan Tengah Papua waktu itu.

           
Saya belum pernah mengalami pendidikan dengan Pak Aroby Aituarau karena waktu itu (tahun 1978) saya sangat kecil. Konon dia mengajar pelajaran agama Islam di lapangan terbuka beralaskan rumput. Sebagai tempat tinggal sementara dia dibuatkan gubuk kecil disamping rumah Kepala Suku Haji Muhammad Aipon Asso. Karena tidak ada bangunan apalagi sekolah kala itu di Kampung Assolipele. Aroby Aituarau datang mengajar Islam disini tahun 1977-1978.

           
Beberapa waktu kemudian sepeninggal Aroby Aituarau, Jamaluddin Iribaram dari Kokas didatangkan. Rumah tempat tinggal guru kedua ini sudah selesai dibangun tahun 1978 seperti dijelaskan diatas tadi, berupa bangunan segi empat dua lantai. Tempat itu kini dikenal sebagai lokasi Islamic Centre Walesi sekarang. Pak Jamal kelak hidup lama di Wamena, tidak seperti Arobi Aituarau yang hanya sebentar walaupun keduannya sama-sama Asli Papua, masih muda dari Uncen Jayapura, aktifis HMI, dan berasal dari Fak-Fak dan didatangkan oleh Islamic Centre. Organisasi ini didirikan atas gagasan Dr. Kolonel Mulya Tarmidzi dari Angkatan Laut 10 Hamadi Jayapura.


Ketua Islamic Centre kota Wamena Kabupaten Jayawi Jaya pada waktu itu Pak Hasan Panjaitan, Sekda Kabupaten Jayawi Jaya. Sponsor utama dukungan organisasi ini datang dari para pejabat di ibukota Propinsi Papua yang beragama Islam dan utamanya Dr. Kolonel Mulya Tarmidzi dari AL dan Saddiq Ismail Kadolog. Jamaluddin Iribaram sama dengan Aroby Aituarau, didatangkan ke Walesi masih berstatus mahasiswa Uncen kala itu. Dia dibujuk agar meninggalkan kuliah untuk mengajar Islam disini. Jalamaluddin Iribaram muda ganteng tapi taat agama, saya kira wajar kalau dia sebagai guru agama/ustadz, tidak pernah terpengaruh oleh banyak perempuan muda Walesi suka padanya.


Saya termasuk siswa ajaran pertama Pak Guru ini. Mula-mula Pak Jamal tiba disini pengajaran pendidikan madrasah belum di mulai secara luas –kecuali kami anak-anak kampung sekitar sudah diajari mengaji duluan- tapi terbatas hanya beberapa anak dan masih dilakukan himbauan-himbauan agar para orang tua memasukkan anak pada pelajaran Al-Qur’an sore hari. Disamping belum ada bangunan sekolah untuk sementara tempat tinggal Pak Jamal (rumah guru) di jadikan sebagai ruang serba guna misalnya ruang belajar agama Islam anak-anak sekaligus dijadikan tempat pengislaman seperti sunatan massal, syahadat dan tempat belajar tata cara sholat kaum tua.


Saat itu saya belum berpakaian (tapi bulum layak kenakan koteka) demikian semua teman-teman sebayaku disini, sejak mula saya cerita bahwa saya sudah yatim piatu. Sebagai anak yatim yang ditinggal pergi kedua orang tua saat masih kecil, sudah tentu pertumbuhan badanku kurang baik, dengan banyak ingus meleleh dan perut buncit, saya diajak paman datang bawa makan (petatas/ubi jalar merah kesukaan) menemui Pak Jamaluddin Iribaram.


Paman saya, Heramon Asso, pelopor salah satu gigih Islam di Walesi. Ustadz Jamaluddin akrab dengan paman saya karena alasan perlindungan. Rumah tempat tinggal Pak Jamal banyak pakaian sumbangan dari Jayapura. Saya pakai baju duluan dari kawan-kawan sebaya. Hampir seluruh orang Walesi kala itu masuk Islam masih mengenakan koteka. Jika ada orang datang berpakaian bau sabun atau wangi tercium jelas oleh warga walaupun jaraknya jauh, mungkin dipengaruhi udara yang sangat bersih dan asli. Pamanku Heramon Asso menemui Pak Jamal masih mengenakan koteka.


Tempat Pak Jamal tinggal setiap malam (ba'da maqhrib) diadakan pengajian al-qur'an. Saya dan teman-teman sebaya belajar mengaji disini. Kami lebih dulu tahu menyebut; alif, ba, ta, sta dst. huruf hujaiyyah, (abjad arab) daripada huruf latin. Kami diajarkan membaca Al-Qur’an dimulai dari Juz ‘amma hingga khatam masuk Qur’an besar dimulai awal dari surat Alif Lam Mim (Surat Al-Baqorah). Awalnya dituntun, karena sering ulang-ulang, surat-surat pendek ayat Al-Qur’an sudah kami hafal. Kami juga diajarkan tajwid dan makharojul huruf.


Di Walesi selain SD YPPK belum ada sekolah lain waktu itu. Ada SD Impres di Megapura jauh dari Walesi. Tidak ada kegiatan lain selain belajar mengaji yang tempatnya digunakan dari bangunan rumah tempat tinggal guru. Bangunan itu dipakai sebagai tempat sholat, mengaji dan belajar pendidikan agama islam sekaligus. Bangunan rumah guru itu adalah bangunan Islam pertama dibangun selesai tahun 1978 di Walesi.


Pada mulanya Pak Jamal sendiri tidak ada kegiatan belajar hanya mengaji. Tapi pada tahun 1979 dua orang guru khusus Madrasah Ibtidaiyyah (MI) datang dari Jawa. Mereka didatangkan oleh Rabithah ‘Alam Islami, organisasi dunia Islam yang kantor pusatnya di Saudi Arabia itu bekerja sama dengan DDII. Dua orang guru itu bernama Bashori Alwy dan Walidan Mukhsin, mereka dari Bantul Jogjakarta. Sejak kedatangan dua guru dari Bantul Jogjakarta itu Pak Jamaluddin Iribaram pindah bantu mengajar mengaji di Kota Wamena.


Pembangunan sekolah pertama dimulai tahun 1978, selesai tahun 1980. Bangunan sekolah itu kelak dinamai menjadi Madrasah Ibtidaiyyah (MI), Merasugun Asso Walesi. Nama Merasugun Asso dari nama pejuang dan orang paling pertama masuk islam sebagai muallaf asal Walesi, atas jasa-jasa perjuangan namanya diabadikan menjadi nama Madrasah. Sekolah ini pertama dan juga satu-satunya di kabupaten Jayawi jaya sampai hari ini.


Bangunan sSekolah itu dibangun lengkap dengan 6 ruangan kelas. Kegiatan belajar mengajar layaknya Madrasah Ibtidaiyyah mulai digunakan bangunan baru ini. Sumbangan mengalir dari mana-mana. Dari Jepang, Malaysia, Jakarta, Jayapura juga dari kota Wamena sendiri. Sumbangan berupa pakaian dan alat-alat perlengkapan sholat. Dari Jepang alat-alat sekolah seperti buku, pensil, penghapus dll. Kami siswa paling modern tapi juga paling lengkap untuk ukuran pedalaman Papua kala itu.


Mulai Sekolah


Tahun ajaran 1982 saya tercatat sebagai siswa kelas satu di Madrasah Ibtidaiyyah Merasugun Asso Walesi. Kami dikenalkan dengan pelajaran berhitung dan huruf latin oleh seorang guru putra daerah bernama Muhammad Ali Asso. Guru ini sebelumnya sudah belajar di Madrasah Ibtidaiyyah Yapis Jayapura. Pak Guru Madrasah kelas satu ini sekaligus wali kelas kami. Dia keras, kalau kami nakal, tapi cara mengajarnya mudah dicerna untuk dipahami. Muhammad Ali Asso, mengajar kami dengan menggunakan bahasa pengantar bahasa daerah dengan contoh-contoh alam sekitar memudahkan kami mencerna pengajarannya. Dalam pembagian raport kenaikan kelas saya dicatat sebagai juara satu kelas. Demikian setiap kenaikan kelas selanjutnya.


Tidak lama Pak Bashori dan Pak Walidan dari Jawa datang tahun 1980 di Walesi, beberapa guru bantuan datang lagi dari Jawa. Pak Guru Nur Hadi Waluyo adalah sarjana muda pertama guru kami datang tidak lama setelah Pak Walidan Muhsin dan Pak Bashori Alwi. Praktis sekolah Islam dan Madrasah Ibtidaiyyah pertama dan satu-satunya di Wamena ini hampir semua gurunya adalah pendatang tidak ada lagi guru orang Papua asli selain Muhammad Ali Asso yang belakangan di pecat karena minum beer yang diharamkan dalam agama islam itu. Silih berganti guru-guru kami datang dan pergi hampir semuanya amber (pendatang) dan tentu wajib beragama islam.


Sistem pendidikan di Madrasah Merasugun diterapkan dua system pagi dan sore. Kami belajar dalam system yang diberlakukan system semi pesantren. Pada pagi hari kami sekolah biasa. Pada sore hari kami belajar pelajaran agama Islam terutama belajar Al-Qur’an. Pada pagi hari kami sekolah sebagaimana biasa dengan kurikulum diatur Madrasah Ibtidaiyyah tingkat nasional oleh pemerintah. Tapi pada sore hari kami diwajibkan belajar mengaji Al-Qur’an. Kami belajar sistem pendidikan semi Pondok Pesantren sebagaimana dikenal kebanyakan di Jawa.


Setiap sore dibantu tenaga guru-guru dari negeri yang datang tinggal disini seperti Pak Qomari guru SD Negeri Kurima dan Pak Mahmud Yahya yang pada mulanya guru SD Negeri di Walaik, bantu mengajari kami belajar ngaji (belajar Al-Qur’an) di Madrasah Walesi. Mereka membantu tugas Pak Bashori Alwi dan Walidan Mukhsin mengajar kami yang jumlahnya banyak silih berganti secara bergilir. Pak Qomari adalah seorang guru negeri yang dikirim pemerintah yang ditugaskan di SDN Kecamatan Kurima tapi belakangan membina muslim Megapura selain mengajar kami. Dia berasal dari Madura dan dari kampungnya memang santri. Beliau membantu tugas Pak Bashori dan Walidan Mukhsin mengajar kami mengaji.


Banyak guru silih berganti datang dan pergi di sekolah kami pada umumnya guru-guru orang pendatang (luar Papua) dan muslim tentunya karena sekolah kami Madrasah Ibtidaiyyah. Banyak guru sekolah lain pindah mengajar disekolah kami, termasuk guru negeri yang ditugaskan pemerintah di sekolah Negeri dan Impres. Guru-guru Negeri dari Jawa dan Sulawesi, NTB yang beragama Islam lebih suka pindah datang tinggal mengajar di sekolah kami, Madrasah Ibtidaiyyah Merasugun Asso Walesi daripada temapt mereka ditugaskan. Guru-guru dari negeri yang dikirim pemerintah sebagai bantuan IMPRES banyak lari dan lebih merasa nyaman mengajar sekolah kami disini daripada sekolah pemerintah di pelosok jauh tempat lain Kabupaten Jayawi Jaya Wamena yang asing dan sulit buat mereka.

                                                                                     *** ***


Suatu waktu, saya ingat disini, kalau tidak salah pada saat saya duduk kelas III, selama enam bulan saya minggat masuk dikelas, karena ikut teman berburu ke hutan, tapi oleh kepala sekolah saya tetap dinaikkan ke kelas IV. Padahal saya tidak ikut ulangan dan tidak masuk kelas selama setengah tahun (6 bulan). Kesadaran betapa penting arti pendidikan bagi kami dan oleh lingkungan sangat rendah disini. Kadang-kadang selama satu bulan pada musin-musim tertentu kawan-kawan yang lain sama seperti saya, jarang datang ke kelas untuk belajar. Selama beberapa bulan bersama teman-teman sebaya saya suka keluyuran dihutan sekedar berburu kus-kus dan burung. (bersambung).




[1]. Kalelo adalah nama gunung sambungan dari gunung Irimulia (gunung salju) kini populer disebut Punjak Trikora. Kalelo adalah tempat keramat bagi sebahagian orang dan dipercayai nenek moyang dulu bahwa orang meninggal arwahnya menempati wilyah ini sebagai kampong arwah orang meninggal. Semua orang Suku Dani clan atau moity Asso pasti diyakini disana kampung halaman akhiratnya. Pra Islam orang Walesi yakini bahwa setiap warga meninggal pasti arwahnya menuju ke Kalelo untuk bermukim disana selamanya.
Disini mencoba menampilan experimentasi pemikiran sederhana guna memberi kontribusi atas berbagai masalah keislaman dan kepapuaan guna mencapai kemaslahan bersama atas berbagai masalah sosial politik. Penawaran pemikiran lebih pada perspektif islam, yakni; berdasarkan nilai-nilai utama yang terkandung dalam dan dari sumber Al-Qur'an dan Al-Hadis, dengan intrepretasi lebih bebas sesuai konteks sosial budaya Papua.